Thursday, June 19, 2008

Kretaku tak berhenti lama.... (3rd Edition)

Citayam, Pa Yos, pulang malem...

Stasiun Citayam stasiun unik. Stasiun yang jauh dari keramaian, tidak seperti stasiun lain yang besar seperti depok, bogor atau pasar minggu. Tapi stasiun citayam stasiun adalah terindah yang pernah saya lihat. Stasiun citayam, stasiun terakhir sebelum depok yang selalu menjadi penyuplai penumpang kereta terakhir berangkat sebelum ke kota ketika berangkat pagi menuju tempat kerja.

Suara musik dari penjual vcd dan dvd musik atau film menemani telinga malam itu. Musiknya tidak karuan, dari mulai musik keras sampai musik yang lembut semuanya terputar. Mungkin lagu medley dan remix disko plus jaipongan yang diputar hampir selama beberapa jam saya menunggu di stasiun citayam. Berpindah dari lagu yang satu ke lagu yang lain yang kadang tidak pernah sampai selesai diputar. Telinga jadi terbiasa mendengarnya dalam beberapa jam itu. Terfikir saat itu betapa indahnya jika yang diputar adalah suara murattal dari syaikh al-matrud atau as-syatiri, pasti malam itu lebih teduh. Tidak seberingas musik medley dan mudik dangdut remix yang mendesak-desak di dada.

Citayam, stasiun sederhana yang hanya di lalui oleh dua rel kereta api. Satu arah utara ke arah Jakarta dan satu jalur yang lain arah ke selatan menuju bogor. Letaknya agak tinggi diatas permukaan yang lain. Sepertinya staisun ini merupakan stasiun diujung lembah yang tinggi dimana pintu masuknya di depan lembah tersebut. Nampak jika berdiri ditengah stasiun menghadap ke arah barat ada sebuah danau yang terhampar diantara perumahan di dekat stasiun citayam. Tidak terlalu luas, namun nampak indah karena memang jarang ada wilayah yang bisa terdapat didalamnya sebuah danau di kota kami ini. Malam itu nampak danau begitu indahnya dihiasi dengan pantulan sinar lampu rumah dan lampu penerang jalan yang terilhat diatas permukaan airnya. Pernah lihat pemandangan dipinggir pantai di atas vila atau bungalau diatasnya? Mungkin sedikit seperti itu tadi malam, subhanallah

Pa Yos, malam tadi mentraktir saya makan dirumahnya. Sekitar 2 km dari stasiun citayam. Subahanallah, orang yang bersahaja, murah senyum dan baik hati. Saya diajak kerumahnya untuk mengecek kerusakan computer pa Yos yang baru saja tidak lama ia beli. Rumahnya sederhana, hanya beberapa ruang saja, tapi isinya seperti menunjukkan bahwa isi hati pa Yos lebih dari biasanya. Alat elektronik, Tape, computer, TV yang besar. Pa Yos melek teknologi… Pa yos orang yang sadar bahwa memanfaat teknologi adalah sesuatu hal yang baik.

Meski Cuma buat ngetik sama muter vcd musik, mas deni…” Katanya.

Wuih, malam yang cukup larut untuk pulang kebogor, tapi dalam juga maknanya, benakku berfikir terus seperti itu. Senang bisa singgah mencari informasi baru di tempat yang baru dan berkenalan dengan orang yang baru pula.

Citayam, malam itu juga jadi tempat terindah disepanjang perjalanan saya menggunakan kereta. Ditemani pa Yos, musik dangdut remix dan beberapa penjual buah2an murah di akhir sore menjelang malam.

Alhamdulillah pulang juga….

Wednesday, June 18, 2008

Stop Kekerasan

Jakarta masih aman. Setidaknya ketika tadi pagi saya lihat di perjalanan ketika berangkat ke tempat kerja. Di daerah monas (monumen nasional) pagi ini ramai dengan beberapa kelompok orang yang masing-masing berbeda kontras. Nampak sekali mereka dari golongan yang benar-benar jauh jarak dan hubungannya.

Kelompok pertama, ada sekitar 10 mobil pengangkut pasukan polisi yang parkir dan mungkin ratusan motor yang berbaris rapih disana. Di ujung barisan parkiran terlihat rapih berbaris ratusan pasukan polisi sedang berkoordinasi. Setiap hari memang hampir selalu ada pasukan pengamanan di monas akhir-akhir ini. tidak kurang minimal satu buah mobil patroli dan beberapa polisi disana. Polisi mungkin masih berjaga dan bersiaga atas kejadiaan kerusuhan di monas tanggal 1 juni yang lalu.

Kelompok kedua, berkumpul agak diluar pagar monas, sekelompok orang berpakaian dominan putih dan hitam, mengelilingi sebuah mobil besar bak terbuka yang memuat sound system. Sekilas nampak terbaca tulisan "hizbut tahrir indonesia". Terlihat banyak poster yang mereka bawa yang bergambar tokoh FPI, habib riziq dan gambar Munraman, mungkin mereka sedang akan aksi menuntut pembebasan dua tokoh FPI tersebut. Monas memang tidak pernah sepi akhir-akhir ini dari kelompok aksi dan demonstran yang menuntut kepada pemerintahan atas kebijakan yang diambil. Istana negara di depan monas tersebut nampak selalu ramai setiap beberapa sore hari belakangan ini dengan kelompok yang kontra dengan kebijakan pemerintah. Naiknya BBM, pemberian BLT, Buruh dan Guru yang menuntut gaji dan lain-lain.

Subhanallah, kelompok ketiga yang terakhir, ada segerombolan orang yang berkulit lain dengan bangsa kita. Orang bule. Mereka menumpang sebuah bis pariwisata yang mewah yang terparkir juga tepat didekat mobil demostran dan rentetan kendaraan pasukan polisi tadi. Tidak jelas tepatnya bule dari mana, timur atau barat yang pasti mereka gerombolan atau rombongan pelancong luar negeri yang memang sedang berwisata ke indonesia. Lengkap dengan pemandu dan tustel, kamera yang mereka bawa. Monumen nasional dan taman didepan istana merdeka memang menjadi tempat foto dan rekreasi yang menarik bagi turis mancanegara yang berkunjung ke jakarta.

Kekerasan, ketidakamanan, kerusuhan, akhir-akhir ini sedang marak. Entah apa penyebab timbulnya sifat buruk ini hampir secara serentak di masyarakat. Mungkin ada benarnya orang yang bilang kenaikan harga BBM sehingga masyarakat naik pitam dan banyak kekerasan. Entah kenapa masyarakat indonesia yang terkenal ramah bisa menjadi begitu buas dan beringas seketika. Seorang wanita yang sifatnya lembut ternyata menyimpan sifat buas seperti tergambar dalam kejadian geng nero di jawa timur sana. Seorang teman perempuan saya yang sampai terkejut amat sangat ketika didaerahnya yang sebelumnya aman namun suatu saat ia dirampok oleh beberapa pemuda, beberapa kelompok agama yang sama-sama mengaku agama islam dan selamat, sampai bentrok dan mengucurkan darah disuatu tempat (karena mungkin kesabaran atau kondisi yang saat itu memaksa untuk terjadi bentrokan)

Rabb, yang maha lembut, yang maha pengasih.. selamatkan kehidupan kami, tunjukan kami jalanmu yang lurus.
Rabb yang maha pengampun, jangan jadikan kebencian dihati diantara kami yang sama-sama yakin akan diriMu....

Weih.. dahsyat pagi tadi, melihat tiga kelompok yang bisa berkumpul tadi saya jadi masih menyimpan optimis, dan berjuta keyakinan bahwa setiap masalah nanti akan ada solusinya. Jakarta ini masih aman. Polisi akan terus bertugas dengan baik mengamankan jakarta dan mengayomi masyarakat dalam kehidupannya. Kelompok yang berjuang dan berkeyakinan untuk memajukan suatu perubahan akan terus dengan bijak menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah yang memang tidak 100% benar dan jauh dari kesempuranaan. Demostrasi dan aksi di jalanan yang juga semoga diikuti dengan aksi nyata dilapangan, ikut membangun masyarakat dan bangsa. Turis asing, orang-orang yang mengagumi keindahan indonesia dan Jakarta, akan terus berdatangan menambah devisa dan keuntungan bagi masyarakat indonesia juga.

mudah-mudahan...

Tuesday, June 17, 2008

Menyiasati Kegundahan Hati

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menata hati dikala gundah. Karenanya, dikala suatu musibah dirasa berat, maka sebenarnya itu semata-mata karena kita belum mampu memahami hikmah dibalik kejadian tersebut. Atau kita masih beranggapan bahwa rencana kita lebih baik daripada rencana Allah.

Sesungguhnya ilmu kita yang teramat sedikit ini kerap kali diselimuti hawa nafsu yang cenderung menipu dan menggelincirkan diri. Sedangkan Dia, adalah Dzat yang maha Mengetahui segala-galanya. Sesuai firman Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat burukbagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS.Al-Baqarah [2] : 216).

Oleh karena itu, bila datang suatu kejadian yang mencemaskan, segera kuasai diri. Jangan menyiksa diri dengan pikiran yang diada-adakan. Sehingga kita makin tersiksa. Kedua, segera kembalikan segala urusan kepada Allah. Yakinilah kesempurnaan sebagai jalan yang terbaik bagi kita.

Ketiga, jangan mendramatisir masalah. Masalah akan menjadi besar jika kita menjadikannya besar. Sebaliknya, masalah menjadi kecil jika kita menganggapnya kecil. Dengan demikian, tergantung dari seberapa pintar kita mengelola masalah.

Oleh karena itu saudaraku, kita harus berupaya istiqamah dalam membersihkan hati. Semoga hati yang bersih akan tercermin dalam wajah yang bersih. Mencerminkan hati yang tidak bersih akan terlihat dari wajah. Wajah merupakan cerminan dari kondisi hati. Orang yang bersih hati tampak dari wajahnya yang berseri-seri, ceria, murah senyum,kata-katanya baik, lembut, dan akhlaknya baik. Keindahan yang sesungguhnya akan terpancar dari dalam (inner beauty). Kunci agar dicintai Allah salah satunya dengan menjaga kebersihan hati, lisan, fisik, dan harta kita.

Sumber : Majalah Swadaya

Monday, June 16, 2008

Just giving once

Just giving once
but you telling every one you meet
Just giving once
you are always talking about it
Just giving once
act as doing good thing is your habit
Just giving once
Every body has known what you did

When giving with your right hand
Don't let even your left hand
Know the good thing that you did

When giving something, don't tell anyone
When giving something, keep that with you
When giving something, just you and Allah
Who know the good thing that you did

Snada

Thursday, June 12, 2008

hadist of the day

"Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin. Keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Hal demikian itu tidak akan terjadi, kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar. Itupun, juga merupakan kebaikan untuknya."

HR. Muslim

Monday, June 9, 2008

Gunung Gede Pangrango Via Selabintana (Sukabumi) Part 4

Entah siapa nama lengkapnya, tapi ketika kami berkenalan ia sebutkan namanya wouwou. seperti memanggil atau menyebutkan sesuatu, wau.. wau... lucu juga sebutannya, unik tidak seperti nama yang lain. tampangnya juga agak unik, rambutnya panjang sedikti kribo, tepatnya ikal stadium tinggi. wajahnya bersih, familiar, seperti wajah-wajah yang sering saya temukan di kota tempat saya kerja dan tinggal.

Wouwou ini kami temukan ketika kami tepat di tengah perjalanan menaiki gunung gede lewat salabintana sukabumi. saya sebut temukan, karena memang ia terdampar dan tergeletak lemah ketika di perjalanan menanjak. ia tidak sendiri, saat itu kami bertemu dengan kelompok pemanjat juga yang saat itu melalui jalur salabintana. kasihan, mereka berombongan sekitar 5 orang yang ternyata ada perempuan juga ikut disana. pengalaman saya naik gunung memang tidak pernah menyertakan perempuan, cerita teman yang lain klo membawa serta perempuan naik gunung sedikit lebih lama dan agak berat penanjakannya. mungkin karena banyak berhenti dan lebih sering kelelahan.

Saat itu si wouwou tenyata sengaja berpisah dari rekan-rekannya yang satu rombongan tadi. kami kenali terakhir mereka tenyata satu rekan dan temanan satu universitas. teman kuliahan sepertinya. Wowou yang mungkin paling kuat diantara mereka sengaja ikut berjalan bersama rombongan kami duluan untuk mencari pertolongan di atas puncak gunung sana dan mendapatkan sumber mata air. iya, air. saat perjalanan itu pun rombongan kami, pasukan ragenah, bener-benar juga berjuang dalam panjangnya perjalanan dengan sedikit bahkan habisnya perbekalan air. Hanya permen dan gula jawa yang jadi peneman keringnya tenggorokan kami.

"wah, yang kufikirkan cuma bagaimana caranya aku bisa selamat sampai bogor lagi... " klo kata mas aji sang dosen.
"ini tumbuhan mana yang bisa ku makan dan kujadikan sumber air minum.." yang terbayang dibenakku saat itu.

Dahsyat memang, bayangkan... kurang air, jalan panjang berjurang, terjal serta dibayang-bayangi kecupan PaCET... jadi perjalanan terseru kami menaiki gunung gede pangrango.

Balik lagi ke si Wouwou tadi. Anak Depok yang kerja dijakarta ini akhirnya ikut rombongan kami. ia tidak sendiri dari rombongannya, berdua dengan seorang lagi, yang tidak begitu ku kenal namanya, ikut juga bersama kami.

Kebersamaan Penuh hikmah

Cerita bertualang naik gunung berombongan bukan jadi hal yang aneh. yang agak aneh klo naek gunung sendirian, atau maksimal cuma dua orang. perjalanan kemarin ke gunung gede menjadi menambah perbendaraan hikmah di benak kami, saya khususnya betapa kebersamaan itu penting, apalagi dalam menanggung beban yang sama.

rombongan pendaki gunung bisa jadi adalah salah satu contoh praktis keeratan hubungan dan interaksi yang nyata diantara rombongan di dalamnya.

subhanallah, naek gunung jadi contoh bahwa menanggung beban masalah itu harus dibagi-bagi. Ada yang bawa tenda, bawa kompor, bawa mie dan bahan makanan, adayang bawa air, ada yang bawa telor asin... :) (yang terakhir out or order...). Iya, kepentingan dan kebutuhan bersama kami bagikan ke masing-masing ransel orang sehingga tidak terasa berat dan semua kebutuhan terbawa.

subhanallah, naek gunung jadi bukti betapa kesabaran dan kesetiaan seorang teman dengan teman yang lain. Ketika pipin, terkena pacet dan berteriak... semua teman yang berjalan di atasnya berhenti. atau ketika ada teman yang capek dan lelah serta minta berhenti, semuannya stop dan ikut berhenti. menunggu dan rela berjalan bersama agar semuanya selamat.

"woi, perut mules... Tissue... " si iteng juga minta berhenti. Jawaban yang laen?
"walah jauh-jauh yuk... :)) kita tinggalin aja ... :D

Dan subhanallah... ketika kami naek gunung lewat salabintana kemarin pun. Wowou jadi salah satu bukti kebesamaan antara pendaki gunung. Bayangkan orang baru kami kenal. tapi satu nasib naek gunung, kami akhirnya jalan bersama. berbagi air, berbagi senter (meski ilang ya mas gatik.. :(( ) berbagi air panas dan berbagi cerita yang lain.

alhamdulillah, akhirnya sampai juga di mata air cileutik...

... bersambung
wawau, ra genah, tetap kompak dan sehat sehat ya....



****

Wednesday, June 4, 2008

Moral dan ahlaq

Dahulu ketika di sekolah dasar, masih teringat ada pelajaran pendidikan moral pancasila, yang disingkat PMP (baca:pe-em-pe). Dahulu juga ketika sembari sekolah dasar, saya juga ikut sekolah agama, juga teringat saya belajar ilmu ahlaq. Waktu seusia itu juga saya sering mendapatkan nasihat dan perilaku contoh dari orang tua untuk selalu menghormati dan bersikap yang baik di rumah atau dimanapun.

PMP memang sebatas pelajar di sekolah dulu dan masih teringat dibayangan ketika pelajaran ini hanya identik dengan soal-soal pilihan ganda yang kalau ingin jawabannya benar maka pilihlah jawaban yang paling panjang. Dan pernah dulu karena saya salah menjawab, waktu sekalinya itu saya mendapatkan nilai 6 di raport. Di sekolah agama, materi ahlaq saat itu yang teringat dibenak saya hanya bagaimana sebisa mungkin membaca arab gundul, atau arab malayu. Arab melayu adalah bahasa indonesia yang dituliskan dengan bahasa arab, contohnya saya menuliskan huruf dal, mim, dan nun untuk menggantikan kata dimana. Gampangkan? tetapi jadi susah kalau katanya sudah lebih rumit, seperti kalau ada kata dengan huruf dal dan nun saja, saya harus pilh ini bacanya dan, deni atau dani..?

Wuih... report memang kalau belajar, susah dan sulit. nilainya juga sulit. Dan terfikir juga betapa sulitnya ternyata membentuk moral dan budi pekerti ini. Sulit rasanya untuk membentuk diri ini menjadi manusia yang berbudi dan berpekerti yang sempurna....

PMP dan pelajaran ahlaq ini menjadi contoh bahwa saya harus banyak belajar. belajar berusaha dan terus berproses membuat impian menjadi manusia yang berbudi baik akan menjadi nyata. karena agama, kehidupan dan lingkungan sekitar kita pun pasti menuntut dan mengharuskan kita untuk baik dan mengelola semuanya dengan baik.

..."sesungguhnya aku diutus kedunia ini hanya untuk memuliakan ahlaq.." sabda Rasulullah saw.

astagfirullah...

Tuesday, June 3, 2008

Gunung Gede Pangrango Via Selabintana (Sukabumi) Part 3

"aku pegel2 dan ga enak badan nih... "
"...wah badan ku panas dingin..."

Percaya ga percaya, ketika menghadapi sesuatu hal yang baru dan kita kurang informasi terhadap hal tersebut kita pasti akan ketakutan. Setidaknya sedikit ketakutan. Dan mungkin bagi orang yang terbiasa menghadapinya, ketakutan itu ia atasi dengan persiapan.

Sama dengan perjalanan kami ke Gunung gede, jalur salabintana yang baru ini, adalah jalur pertama kali kami lalui. semua persiapan kami lakukan dengan sematang mungkin. barang, uang, fisik, mental, semuanya kami list dan kami kumpulkan. sampai-sampai browsing info di internet pun kami lakukan untuk mencari informasi tentang jalan ini. Ketakutan akan gambaran jalan yang belum jelas dan panjang terbayang di benak kami.

"iya... aku sampe kebawa mimpi... tambah teman kami yang lain.

Dahsyat, subhanallah.. ketika pertama kali kami menaiki gunung gede dengan jalur yang baru, memang berbeda dengan jalur yang lain. di jalur Salabintana ini, kiri atau kanan kami langsung disuguhkan dengan jurang jurang atau lembah yang cukup curam. Tidak seperti di gunung putri dan jalur masuk kebun raya cibodas, jalur di Salabintana selain plus jurang, jalannya juga relatif lebih sempit.

Tapi, indahnya, subhanallah karena kami terpaksa menempuh jalan siang hari, kami bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat pemandangan yang sungguh indah diatas jalan setapak di tepi jurang. Pepohonan yang hijau, lembah yang penuh dengan semak belukar yang juga mengeluarkan bunyi air sungai yang mengalir. Bunyi air ini yang masih terus kami dengar sampai pemberhentian perjalanan kami di pos pemberhetian yang pertama, tidak kurang dan lebih dari 15 menit dari awal kami menaik.

Ketakutan kami yang lain, kami mendapatkan informasi bahwa jalur ini adalah jalur PACET. memang sudah bisa dibayangkan, jalur yang masih baru, pasti masih asli tanah, belum ada batu atau kayu yang membantu membentuk jalan. dan jalan yang bertanah akan menjadi tempat yang subur untuk tumbuh dan berkembang binatang tanah, cacing, lintah. Pacet salah satunya...

Tepat setelah mencapai pos pemberhentian pertama, di perjalanan berikutnya kami temui mahluk yang menjadi bayangan fikiran kami ini.

"Woiii, gua kena lintah... " Pipin jadi korban pertama. Teriakannya membuat langkah kami semua terhenti dan langsung mendekat padanya.

Bayangkan, ternyata lintah ini masuk dan menghisap kaki si pipin tepat diatas lutut kanannya. darah segar mengalir dan menembus celana panjang teman kami yang satu ini. Memang bercelana panjang tidak menjamin kami aman dari gangguan di perjalanan. tapi ini adalah langkah yang paling aman untuk melindungi kaki kami. Berkaus kaki tebal jika menggunakan sendal atau memakai sepatu tebal sama sekali.

Obatnya ternyata sangat mudah, lintah dan pacet akan melepaskan sendiri dari kulit kita jika ia diolesi atau dibasuhi dengan air ramuan tembakau. Satu botol air tembakau yang kami siapkan saat itu. tembakau yang lain sebagai cadangan kami simpan di dalam tas.

Beberapa teman terkena pacet dikakinya, tapi alhamdulillah, ramuan tembakau manjur dan membuat pacet tersebut tidak terlalu parah menyedot darah kami. Saya sendiri korban paling banyak. Wuih, ada tiga setidaknya pacet yang mampir dan minta sumbangan darah saya. :) mudah2n darah yang terambil memang darah sisa yang kotor yang memang tidak saya perlukan.

...


Bersambung...
(pacet dan jurang masih berlanjut terus membayangi fikiran kami...)

Tuesday, May 27, 2008

Gunung Gede Pangrango Via Selabintana (Sukabumi) Part 2

Tempat itu bernama "posko panthera". dengan dipagari oleh gerbang besar dan kokoh bertuliskan "Taman Nasional Gunung Gede Pangrango"... Selabintana, Sukabumi. Posko pantera itu terdiri dari 3 buah bangunan besar yang berdiri disana. bangunan pertama, tepat di depan gerbang tadi adalah bangunan utama berupa posko petugas penjaga taman nasional gunung gede pangrango tersebut. ada seorang petugas penjaga disana yang menerima kami dan mengecek kesiapan kami dalam mendaki gunung.

"bawa pisau?" tanya petugas setelah mengecek anggota kami
"Iya, saya bawa satu..." Tyo menjawab jujur.
"bawa barang-barang lain yang kemungkinan menyampah, seperti makanan bbebungkus plastik? tambah petugas lagi.

Memang rada rese klo dilihat dari tampangnya si petugas ini. Klo dibayangin, mirip pendekar, pendek tapi kekar gitu ;) pake syal yang diikat dikepala, bekumis tebal dan bejenggot... alami banget... sealami sifatnya terhadap alam.

Subhanallah si petugas, yang kami lupa bertanya namanya ini sedikit banyak bercerita dan berbagi ilmu tentang alam khususnya sekitar gunung gede pangrango. Beliau tergerak menjadi relawan yang ikut menjaga kelestarian alam di gunung gede. dan tenyata beliau memang bukan petugas resmi penjaga taman nasional gunung gede pangrango, tapi petugas dan relawan sukarela yang membackup petugas disana. Dahsyat jarang-jarang ada orang apalagi masih muda yang mau berbuat semulia dia.

"hari ini petugas harusnya ada yang jaga, tapi kebetulan mungkin karena sabtu... " diakhir cerita beliau.

pasukan ra genah yang lain ? pada asik berfoto dan menikmati bangunan dan alam di kaki gunugn gede pangrango tersebut. Memang di dalam bangunan tersebut juga di set menjadi musium kecil yang berisi foto-foto hewan dan tumbuhan khas yang hidup di taman nasional gede pangrango.

.."Bos, ada Ua kita bos... " tebak gambar apa? :)

Bangunan kedua di samping bangunan pos penjaga tadi nampak sebuah kantin dan dapur tempat makanan tentunya. Alhamdulillah, coklat cemilan pipin dah jadi makanan jajanan pengganti bagi kami sehingga jadi mengirit dompet yang memang sudah semakin tipis saat itu :) ... "wong miskin, siap menerima ihyak dan topan finance... " :))

Terakhir, agak menaik di gundukan tanah diatas bangunan posko, mapak sebuah wc dan mushola kecil. "Masih jam setengah 12, kita sholat dan istirahat di perjalanan aza..."

Ya, bismillahirrahmaanirrahim.... akhirnya tepat pukul 11.30 kami menaiki gunung gede pangrango dari jalur pintu salabintana sukabumi.

"Allah, selamatkan perjalanan kami, sampai nanti turun dan kembali ketempat tinggal kami semula...
"jadikan kami hamba-hamba yang bisa mensyukuri nimat-nikmat Mu...

Aamiinnn...

Bersambung...

Wednesday, May 21, 2008

Gunung Gede Pangrango Via Selabintana (Sukabumi)

pagi itu, hari sabtu 17 Mei 2008, kami pasukan ra genah kembali berkumpul untuk mengadakan perjalanan ke gunung gede pangrango. pasukan ra genah pada kali ini bertambah lengkap dengan ikutnya seorang pendatang yang baru yang bernama Topan. ra genah bukannya tidak ingin menambah banyak pasukan pada pendakian kali itu, undangan sudah disebar namun, walhasil respon teman-teman yang lain tidak ada. Sigit, yang pada pagi itu sudah berencana untuk ikut naik juga, tapi ala kulli hal ada yang ternyata menghalanginya untuk ikut naik gunung gede kali ini. Mamay juga, sakitnya yang membuat batal keikutsertaanya

Nana, Heru, Asep, Paijo, Dion dan Dadang, Mas Yhan,... suatu saat insya allah kita naek gunung gede bareng lagi...

Ternyata pagi itu benar-benar pagi yang cerah. cuaca hangat, tidak panas dan tidak hujan. perjalanan kami ke arah sukabumi, cianjur dan gunung gede benar-benar dapat kami nikmati. Yang panas adalah bayangan, fikiran dan hati kami. Iya, baru kali itulah kami berjalan mendaki ke puncak gunung gede dengan jalur rute yang berbeda dari biasanya. Kami terpaksa harus melewati jalur terberat pendakian ke puncak. yaitu jalur selabintana sukabumi. Dua jalur yang lain, yaitu jalur gunung puteri dan jalur cibodas adalah dua jalur yang paling sering dilewati pendaki dan memang jalur yang relatif lebih mudah. sementara Selabintana, adalah jalur terakhir alternatif para pendaki karena belum terbukajelasnya jalur pendakian dan panjang serta beratnya medan pendakian, penuh tanah, penuh lintah atau pacet dan tidak adanya marka penanda pendakian.

Allahuakbar... pagi itu Allah takdirkan kami untuk menempuhnya, dikarenakan minggu-minggu ini gunung gede memang sudah penuh dengan para kelompok pendaki yang mungkin memanfaatkan moment hari kebangkitan nasional dan liburan yang agak lumayan lama.

Jadilah 9 orang saat itu kami berangkat ke gunung gede. Gatik, Ihyak, Tyo, Pipin,arif alias icus, topan, rio alias roy, aji dan saya deni bersama mencoba jalur baru salabintana menuju puncak gunung gede. Dengan 9 ransel juga masing-masing yang kami bawa, kami sangat optimis bisa mencapainya. Ransel kami pada pendakian kali ini benar-benar lengkap peralatannya. Semua kemungkinan yang terburuk di perjalanan baru kami, benar-benar diantisipasi.
- Matras, sebagai alas tenda untuk tidur. yang kami masukkan sebagai tempat landasan barang didalam ransel (carier)
- Jas hujan/ponco, menjaga agar kami tidak kehujanan dalam perjalanan
- Jaket, yang berfungsi menjaga kami dari kedinginan ketika dipuncak gunung nanti
- Sepatu dan sendal gunung, yang kami pakai senyaman mungkin agar kaki tidak lecet dan jalur basah atau becekpun dapat kami lalui
- Sarung tangan, berguna untuk menahan dinginnya udara puncak gunung dan melindungi tangan dari batang yang berduri ketika kami naik atau turun gunung
- Kaos kaki tebal untuk melindungi kaki saat perjalanan dan saat tidur agar tidak kedinginan
- Kupluk/Topi yang menjaga kepala dari panas, dingin dan dari bahaya yang datangnya dari atas kami
- Alat makan untuk makan tentunya
- Obat-obatan untuk berjaga jika suatu saat kami jatuh sakit
- Makanan dan air minum yang bisa mengganjal perut kami dari kelaparan. untuk barang makanan pribadi kami memabawa tidak cukup berat, hanya yang kecil-kecil saja, meskipun jadi berat karena banyaknya yang kami bawa. Cokelat, Roti, Susu, Permen, Kopi, menjadi penambah makanan dan bawaan barang kelompok.

Iya, bawaan barang kelompok kami pun cukup banyak, terdiri dari :
- Tenda, untuk sembilan orang ini, kami membawa 3 buah tenda.
- Nasting, kami membawa tiga buah, untuk masak air dan membuat makanan atau memasak mie instan agar lebih cepat.
- Kompor gas , kami bawa yang kecil dngan gas tabung botol kecil sebanyak 6 buah (kompornya 2 buah)
- Mie Instant satu dus kami bawa, untuk makan 9 orang kurang lebih 3 kali makan
- Abon, Energen, Kecap dan Saos, penambah sedapnya makanan
- Lampu badai, yang kami ganti dengan senter berlampu LED, sebagai penerang kegelapan malam nanti diperjalanan dan ketika menginap
- Ekstrajoss, maaf menyebut merek.. :) sebagai penambah energi ketika menaik
- Gula merah pengganti permen yang alami, penambah energi juga, dan tidak lupa
- Tembakau, penawar pacet dan lintah yang menempel dikaki ketika menempuh jalur selabintana

Wuih.. Dahsyat, Subhanallah Banyaknya barang bawaan yang kami bawa kemarin, tapi Alhamdulillah membuat kami merasa aman dari kekhawatiran kekurangan perbekalan ketika perjalanan nanti.

Sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dari Bogor, dari kos dan basecam kami yaitu Chogan, kami diantar dan menaiki mobil L-300 Sukabumi bogor. Tyo dan Aji yang mencarikan kami mobil tersebut, sementara kami bersiap di dekat kosan kami. Supir L300 memang luar biasa, selain terkenal jago ngebut, ribet juga birokrasi pembayarannya. Pake Calo, banyak mintanya, susah klo nego harga. Tapi untung kami punya Tyo yang ciat... pake jurus priok plus bogor ngocehan, si supir L300 terbengong- bengong... :)

Ibarat orang nyarter mobil, kamilah kemarin. Uenaknya dapet kendaraan sendiri, sampai-sampai belanja dan turun ditengah perjalanan pun kami lakukan. Ditengah jalur bogor sukabumi kami berhenti dan turun untuk berbelanja cemilan dan minuman untuk bekal diperjalanan. Bayangkan jalur sukabumi bogor yang panjang dan macet karena hari sabtu, harus kami lalui dengan beban ransel dan perasaan was-was akan jalur baru saat itu. Memang jalur sukabumi saat itu macet, dari mulai pasar cicurug, pasar cibadak sampai ke daerah parung kuda.

Alhamdulillah, lain dengan di perjalanan tadi, ketika sudah sampai di kota sukabumi, perjalanan mobil kami jadi lancar. Lewati mesjid sukabumi, terminal dan akhir terus berjalan menuju arah Selabintana Sukabumi. Sekitar 2 setengah jam kami mencapai sukabumi, dan kemudian kurang lebih satu jam lagi kami menuju area salabintana.

Salabintana ternyata sebuah kecamatan besar, tempat kami awal naik ke gunung gede harus kami masuki melalui sebuah bumi perkemahan. Perkemahan CIPELANG. Cipelang adalah sebuah perkemahan dan objek wisata yang bernuansa alam hutan, ada air terjun, tempat wisata, tempat makanan, termasuk ketika kami sampai disana, kami menyempatkan dulu untuk makan dan bersiap untuk menaiki gunung gede. Kami terheran dan terkejutkan dengan datangnya rombongan anak smp dengan baju yang di corat-coret. Oalah ternyata saat itu baru saja berakhir ujian nasioanal tingkat smp untuk kelas tiga, pantas mereka berekpresi dan mencurahkan semua kesal dan uneknya dengan mencoret baju mereka dan berwisata bersama ke air terjun di cipelang. Dan Aneh serta uniknya ternyata mereke BELUM PenGUmuMan !!! Kok dah corat-coret ??? Walah... Mudah2n mereka sadar dengan yang mereka lalukan...

Bersambung....

Wednesday, May 14, 2008

OB Sholeh

Namanya Dadi. Perawakannya tinggi, sedikit kurus, mukanya bersih, teduh, dan dibawah dagunya tumbuh menempel sedikit janggut yang tertata rapih. Rambutnya pendek potongan seperti tentara dan selalu tersisir rapih. di bibirnya selalu terhias senyum tulus yang nampak lebih banyak terlihat dari pada ucapannya yang juga selalu indah terdengar.

Kerjaannya cleaning service. orang ditempat pekerjaanku memanggilnya dengan OB. Ia setiap hari hobi dan memang sudah pekerjaannya untuk selalu bersih-bersih. Menyapu, mengepel, membersihan toilet, mengangkat dan mengganti galon kosong, membeli makanan siang titipan orang kantor,... semuanya serba bergerak dan berotot.

Dadi, si OB sederhana dan berotot ini punya kelebihan lain. Shaf shalat dhuhur berjamaah di mushola kantor kami selalu bisa dipastikan bahwa ia selalu hadir di sana. bahkan suara yang halus dan indah pun pernah saya dengar melantunkan suara adzan, meskipun tanpa pengeras suara.

Subhanallah. OB seperti Dadi ini membuat banyak pelajaran bagi saya. Bekerja, apapun pekerjaannya, sungguh tidak menjadi halangan untuk selalu mengingat kepada Yang Maha Memberi pekerjaan. Hidup sebagaimana pun susah dan rumitnya, lebih dan kurangnya, tetapi ketelatenan, kejujuran dan kebersihan harus selalu menjadi yang utama.

"Shalat... Bukan sekedar untuk menggerakkan badan, membaca lantunan ayat al-quran...
tetapi harus juga berbekas dan menambah keyakinan kita akan penghambaan serta penyerah dirian kita pada Allah.... "