Friday, August 1, 2008

Kretaku tak berhenti lama.... (5th Edition)

Sabarnya Pa Muji

Subhanallah, Maha suci Allah yang sudah mempertemukan saya dengan pa Muji. Malam itu ketika seperti biasa saya pulang kembali ke tempat tinggal di bogor menggunakan kereta, Saya beruntung bisa bertemu dengan beliau.

Kereta yang penuh dengan sesak kembali saya temukan didalamnya pelajaran berharga . Kali ini ilmu itu datang dari seorang Bapak yang tidak terlalu tua namun cukup menjelang tua. Iya, perawakannnya cukup besar, tinggi, ideal. Namun wajahnya seperti wajah orang yang matang dengan pengalaman. Tenang air mukanya dan nampak diwajahnya tanda kesolehan.

Malam itu juga saya saksikan beliau turut berjamaah di mushola stasiun yang sepi jamaahnya. Beliau iman shalat isya malam itu dengan saya seorang makmumnya. Subhanallah, shalat di perjalanan pulang Bogor-Jakarta, jadi hal yang paling berat bagi saya yang selalu pulang sore hari. Kadang dengan terpaksa melewatkan shalat magrib tepat waktu bahkan harus ke isya, terkadang terpaksa harus isya tengah malam karena memang sedang dalam perjalanan.
Alhamdulillah, malam itu Allah kuatkan untuk melangkah ke mushola dan Allah takdirkan untuk ikut shalat berjamaah, mudah-mudahan Allah kuatkan kesabaran saya untuk selalu shalat berjamaah...

Kembali ke Pak Muji, Beliau awal berbicara ucapkan salam dan nama, Subhanallah jarang ada yang mau berbuat seperti ini kepada orang yang baru saja dikenalnya. Ketika berbicara dengan beliau penuh dengan ketawadhuan.

...”Alhamdulillah Pa Deni, Saya termasuk terlambat, sudah enam bulan ini istri saya mengandung setelah 8 tahun kami menikah... Salah satu jawaban beliau.

Dahsyat, 8 Tahun menikah baru dikaruniai anak?. Saya berfikir kurang shaleh apa ya Pa Muji sehingga Allah berkenan memberi putra sampai baru tahun ke pernikahannya.

... ”Alhamdulillah Pa Deni, saya tidak terlalu ngoyo seperti keluarga yang lain yang harus berobat, terapi kesana-sini". Beliau beralasan.
...”Saya tawakkal saja pada Allah, dan Alhamdulillah Allah masih memberikan kepaecayaan kepada saya... ” Bukti ketawadhuan dan kesalihan beliau berikutnya.

Dahsyat, subhanallah, sepanjang perjalanan dan selama kami mengobrol yang terucap di bibir pa Muji ini penuh dengan pujian pada Allah dan tampak sekali kerapihan dan keindahannya dalam menyusun kata. Tidak terlalu berlebihan, singkat, namun tetap jelas dan mudah dimengerti.

...”Kebetulan saja Pa Deni, saya ikut di pengajian Liqa itu, Saya senang mencari Ilmu, berkumpul dan berorganisasi ". Jawab beliau ketika saya tanya apa saja aktivitasnya.
Weih, benak saya memang selalu terus berputar menuju kelompok pengajian atau pergerakan atau partai islam jika melihat orang yang sholeh dan baik tindakannya. Dia ikutan Apa ya? Tarbiyah, orang Salaf, orang Ha Te, .. Jadi bahan renungan bagi saya, apa yang bisa saya lakukan buat umat, agama dan diri ini.
...”Saya lakukan semuanya karena ibadah Pa, cape bahkan tekor kalau seandainya tidak diniatkan kerena Allah....
***

Pa Muji orang yang shaleh juga sabar. Bahkan cerita cerita tentang kesabaran pamuji adalah salah satu keistimewaannya. Pernah terbayang di benak kita betapa kesabaran benar-benar membuahkan hasil?. Malam itu saya mendapatkan jawabannya dari Beliau.

Ternyata pa Muji yang malam itu menemani saya dalam perjalanan sampai stasiun sebelum bogor adalah seorang petugas satpam istimewa disebuah bank di Jakarta, dan tidak jauh dari tempat saya bekerja juga. Beliau Satpam Istimewa karena sudah 10 Tahun beliau bekerja sebagai dan Alhamdulillah akhirnya ia ditempatkan untuk menjadi seorang staf pegawai dibank itu.

”..Doakan Pa Deni saya insya Allah akan sekolah S1.. Jawab Beliau ketika saya tanya kenapa masih lulusan SMA.

Subhanallah, sabar dan keberhasilan pa muji orang Bojonggede, malam itu jadi pelajaran yang berharga bagi saya. Betapa Janji Allah akan selalu tepat bagi orang yang pasrah, selalu menghamba dan ikhlas pada Nya serta selalu Yakin akan PertolonganNya

Alhamdulillah, Terimakasih pa Muji

Pas Stasiun Bojong Gede jam 20:30

Thursday, July 31, 2008

Optimalkan Kebaikan

Alkisah suatu saat di sebuah kerajaan di negeri antah barantah. Sang raja seperti biasa selalu mengadakan sayembara untuk para rakyatnya. kali ini ia mengetes ke setiaan dan kepatuhan rakyatnya melalui sayembara itu.

..."Rakyatku, kumpulkan semua madu yang kalian miliki, beberapa hari ini stok madu di negara kita berkurang,... Seru sang raja dalam maklumat sayembaranya.

Saat itu memang produksi madu didaerah kerajaan sang raja sedang menurun, harus ada pengumpulan dan kerjasama yang lebih baik untuk menanggulangi kekurangan stok madu saat itu. Madu menjadi bagian yang potensial untuk kebutuhan gizi hidup di kerajaan itu.

..."tak usah banyak yang kuminta, cukup satu gelas saja kalian kirim dan isikan kedalam tangki besar yang nanti ku simpan ditengah alun-alun kerajaan.. .. " sambung sang raja.

Dahsyat, bisa dibayangkan sekitar ratusan keluarga rakyat di kerajaan tersebut, jika masing-masing cukup mengirim satu gelas saja, maka sudah sebuah tong besar yang terisi di kerajaan tersebut.

Mulailah para penduduk rakyat di kerajaan tersebut melaksanakan perintah sang raja. Dari mulai keluarga yang paling ujung tinggalnya di daerah tersebut, warga tengah kota hingga ke pesisir kerajaan semua mendengar dan mencoba melaksanakan perintah sang raja tersebut.

Namun sayang disayang berjuta milyar beratus ribu sayang.. ada fikiran yang buruk dari benak para rakyat. Sebetulnya tidak buruk jika difikir singkat. Didapat kabar dari sebuah keluarga..

..."nak, usah kau isi gelas kita dengan penuh madu, cukup isi sebagian sedikitnya dengan madu, dan sebagian banyaknya isi saja dengan air putih.. ucap seorang ibu disebuah keluarga

..."tapi bu, bukankah raja memerintah kita untuk mengisi gelas dengan madu? tidak dengan air? Timpal sang anak

Sang Ibu menjawab ... "Nak jangan khawatir, sedikit saja air yang kita berikan, toh masih ada madu nya, dan lagi tidak ada petugas yang tahu jika kita penuh mengisi tong di alun-alun nanti dengan air saja. Isi saja tong itu di malam hari.

***

Dan terlebih parah lagi apa yang terjadi ternyata tidak satu keluarga yang berfikiran seperti sang ibu tersebut. Hampir bahkan seluruh keluarga berfikir dan melakukan hal yang sama. Akhirnya yang terjadi Tong di alun-alun tersebut bukan berisi madu, namun penuh dengan air putih didalamnya.

Jika coba belajar mengambil hikmah dari kisah di atas, sungguh bakal bersemangat kita-kita ini untuk selalu mengambil kesempatan dan tugas yang optimal. Semua orang akan berinisiatif sendiri berbuat yang terbaik.

fikiran buruk meskipun kecil jika dibiarkan dan terus membanyak akan membuat kekacauan yang besar. Harus ada kelompok atau golongan yang sadar dan terus berbuat yang terbaik. Saling mengisi dan melengkapi. Jika satu golongan lemah maka golongan yang lain harus dalam keadaan baik. Dan memang sungguh parah jika sebuah kejahatan di organisir dengan baik. Kebaikan yang harus diorganisir.

wallahua'lam

Tuesday, July 29, 2008

Gunung Gede Pangrango Via Selabintana (Sukabumi) Part 5 (Habis)

Mendaki Puncak, Shalat dan Zikir

Shalat memang jadi amunisi bagi diri. Shalat, berdzikir, menjadi sarana untuk menentramkan diri ini. Selemah apapun badan, sesibuk apapun pekerjaan, sejauh apapun perjalanan shalat harus menjadi hal yang utama.

"Yo wis kita shalat dulu aza, dah hampir setengah enam nih..."mbah kangkung alias mas ihyak mengingatkan. Saat itu kami baru saja sampai didekat mata air dan Pos pemberhentian Cileutik. Kami hamparkan beberapa buah materas, bertayamum dan berjamaah menjadi dua rombongan.

Subhanallah, perjalanan mendaki gunung kami hampir selalu sampai puncaknya. meski pernah sekali ra genah dulu naik ciremai namun tidak sampai ke puncaknya. Ra genah dulu belum berformasi lengkap, saya tidak ikut juga saat itu. Ada Asep, Paijo, Dadang, Nana yang dulu ikut ke Ciremai. Malam pendakian ke Gunung Gede lewat Salabintana kali itu juga jadi bayangan besar yang menakutkan kami bagaimana seandainya jika kami tidak sampai ke puncak dan terpaksa harus berdiam di tengah perjalanan. Tapi Alhamdulillah, berbekal senter, sedikit kekuatan, beberapa gumpal Gula jawa dan permen akhirnya kami sampai juga.

..."Woiii, jalan mendatar....!!! Icus sampai duluan.

Puncak, Shalat dan perjalanan mendaki jadi tiga hal yang tidak lepas dari agenda kami menaklukan Gunung Gede. Alhamdulillah, ketika sampai di Alun-alun Salabintana kami langsung mencari tempat, mendirikan tenda memasak makanan dan minuman penghangat dan kemudian lagi-lagi menjalankan agenda kami yaitu untuk shalat Jamak Magrib dan Isya.

Sama ketika kami turun dari puncak Gunung Gede, kami teristirahatkan dengan shalat. Di tengah perjalanan, setelah sekitar 10 menit berjalan dari Pos pemberhentian Kandang Badak, kami teristirahatkan dengan shalat Dzuhur yang kami jamak dengan shalat Asar. Ya, shalat kami selalu dijamak, jadi enak kalo naik gunung, shalat disingkat-singkat terus... :)
Subhanallah, Shalat jamak kami saat itu ditemani oleh bunyi air terjun tepat di depan kami.
Berdzikir, bersyukur dan menghadap Allah sang penguasa Alam menjadi lebih khusu klo lagi ditempat seperti ini.

Cukup lama kami turun ke kaki gunung gede lewat cibodas ini. Sekitar Jam 10 kami mulai turun dari Kawah puncak gunung Gede, dan kurang lebih hampir jam 5 sore kami baru sampai di pos terakhir gerbang penanjakan gunung gede pangrango. Tapi perjalanan panjang seru kami di suguhi pemandangan dan pengalaman yang seru dari Gunung Gede pangrango.

Ada air terjun dari mata air panas. Weih, kami berfoto ria disana. subhanallah air panas yang sejak 3 atau 4 tahun yang lalu saya dan kami naik gunung gede sampai sekarang masih panas.
Maha dahsyat, canggih dan hebatnya termos Air panasnya Allah... !!!. Pemandangan jurang dan bukit yang selalu menemani kami terus sampai ke bawah kaki gunung.

Alhamdulillah....

"... Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagai mana diciptakan?...
...Dan langit bagaimana ditinggikan?...
...Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?...
...Dan bumi bagaimana dihamparkan?....

Qs. Alghasiyah ayat 17-19

Monday, July 21, 2008

Bogor, Kota Hujan

Haulnya Almarhum Pak Totong

Pak Totong yang saya kenal ialah seorang pekerja keras. Servis payung, kuli panggul, tukang bangunan ketiganya ia kerjakan. Sering beberapa kali saya lihat beliau duduk didepat teras rumahnya dengan berserakan banyak payung rusak bahkan hampir jadi rongsokan yang hampir pasti ditangannya akan menjadi baru kembali, setidaknya bisa dibuka dan digunakan kembali meski tidak berbentuk seperti semula.

Beberapa kali juga sering saya lihat beliau turun dari bemo dengan memanggul karung, dan plastik belanjaan dari pasar bogor. Bukan barang belanjaannya, tetapi beberapa orang ibu memintanya membantu membawakan kerumah. Jalanan menurun bahkan menanjak kembali ia tapaki dengan menggotong belanjaan yang terkadang kelihatan sangat berat.

Pak Totong yang saya kenal juga orang yang sangat ramah. Senyum jika disapa, raut mukanya cerah dan menampakkan kegembiraan. Wajahnya seperti kebanyakan orang yang berwajah sholeh. Teduh dan sederhana. Tidak pernah absen kulihat ia berdiri dishaf yang paling pertama di mushola dekat tempat tinggal saya.

Subhanallah, Pak Totong dikenang kembali tadi malam. oleh saya, warga sekitar, ibu-ibu dan para jamaah mushola tempat kami tinggal. Ya, Pak Totong memang sudah meninggal. Almarhum jadi salah seorang tetangga yang saya kenal. Almarhum sudah lama tidak saya temui setelah 1000 hari yang lalu. Tadi malam, kami semua melaksanakan haul di rumah keluarganya.
Dan haul semalam menjadi lebih istimewa karena dirangkaikan dengan acara akikah cucu beliau pertama yang belum sempat pernah beliau lihat.

Keramahan pak Totong dan kebaikan keluarganya seperti menjadi magnet yang menarik semua warga tetangga dekat tinggal beliau dulu untuk datang pada acara haul dan akikah tadi malam. Saya alhamdulillah beruntung bisa mengenal dan dekat dengan rumah keluarga beliau. Sudah beberapa kali kami diundang acara syukuran dan acara keluarga yang lain di sana. teringat rombongan kami dulu datang ke nikahan putrinya yang pertama ketika pesta hampir habis.

Sekitar 50 orang bahkan lebih menghadiri acara haul semalam. Bapak-bapak, pemuda, anak-anak-anak hadir disana. Yang menarik malam tadi adalah pengalaman pertama saya mengikuti haulan. Lama, ramai dan penuh dengan doa-doa. Malam tadi tepat disamping saya, seorang santri, jamaah pesantren dekat mushola dengan lantang, nyaring dan keras membacakan pujian atau doa yang lumayan panjang. Kitab Barzanji yang ternyata semalam dibacakan.

Saya cuma hafal kalimat-kalimat sholawat kepada rasul dan beberapa ayat alquran, selebihnya ra mudeng.... Wajah almarhum pa Totong saja yang kemudian saya ingat. Dan malam tadi juga saya terus berusaha untuk mempertebal kecintaan dan berazam terus untuk melaksanakan sunnah rasul. ...alllahumma sholli alla muhammad.

Pak Totong, keluarga beliau, santri dan jamaah mushola, teman pemuda semua, jadi hal yang istimewa buat saya. subhanallah bertetangga dengan orang-orang sholeh dan ramah seperti mereka membuat hidup menjadi lebih kaya. Kaya dengan ketenangan, kebaikan dan nilai-nilai yang baik meskipun banyak kekurangan baik harta maupun kelemahan fisik lainnya. Babakan fakultas dan warga sekitarnya jadi teman yang setia selama saya tinggal di bogor untuk sudah hampir 8 tahun.

..."allahummaghfir lana, wa khususan ilaa pa totong, ilaa warga babakan fakultas jamiian...
(ya allah ampunilah dosa kami, maafkan khususnya kesalahan dan kehilafan almarhum pa totong dan seluruh warga babakan fakultas ini...)

diakhir doa pa ustad tadi malam.

***

Friday, July 18, 2008

Lelaki itu berjanji Untuk Mau

Lelaki itu menemui Rasulullah. Meski bukan datang sebagai orang baik-baik, tapi tekadnya sudah bulat : Mengucapkan syahadat. Padahal, mencuri, mabuk, hanyalah sebagian dari banyak kebiasaan bruknya selama ini.

"Aku punya kebiasaan buruk yang sulit sekali aku tinggalkan," keluhnya kepada Rasulullah usai masuk Islam.

Rasulullah menjawab, "Maukah kamu berjanji kepadaku untuk tidak berbohong?"
Rasulullah memberi solusi. Hanya itu permintaannya. Mau berjanji untuk tidak berbohong.

"Ya, mau. Aku berjanji untuk tidak berbohong." jawab lelaki itu. Setelah itu ia beranjak pergi. Ia berkata, "Alangkah mudahnya permintaan Rasul mulia ini. Hanya berjanji untuk tidak berbohong."

Beberapa waktu kemudian, keinginan mencurinya kambuh. Namun, ketika hendak mencuri, ia teringat janjinya, "Kalau aku mencuri, lalu aku ditanya Rasul, bagaimana aku akan menjawab? Kalau aku jawab "ya", bahwa aku telah mencuri, berarti aku mendapat hukuman. Kalau aku jawab "tidak", maka berarti aku telah berbohong, padahal aku telah berjanji untuk tidak berbohong. Maka lebih baik bagiku meninggalkan mencuri." Begitu juga ketika keinginan untuk mabuk datang, pertanyaan itu muncul lagi. Sampai akhirnya, ia benar-benar menjadi seorang muslim yang taat.

....
dari majalah Tarbawi, rajab 1429 H

Kretaku tak berhenti lama.... (4th Edition)

Kereta ekonomi kereta rakyat. Kereta semua orang. Semua golongan masyarakat sepertinya ikut menikmati jasa kereta ini. Dari mulai yang berdasi hingga yang memakai kaos oblong. Pejabat dan aparat pemerintah sampai pesuruh di gedung-gedung besar di kota.


Kereta ekonomi jadi gambaran kecil kehidupan. Saya mengistilahkannya Dunia kecil. Seperti dunia yang memiliki berbagai macam pernik kehidupan, kereta pun memuat beragam pernik orang dan masalah. Kehidupan selalu dinamis dan berganti seperti kelangsungan kereta yang selalu beragam dan berganti persoalannya dari waktu ke waktu.

Seperti kehidupan yang memuat si baik dan si buruk, kereta pun berisi dengan orang yang berhati baik dan orang yang berniat buruk. Weih, hampir 3 kali tas saya disilet oleh orang entah siapa. Hampir tiga kali itu juga saya tidak pernah menyadari bahwa orang yang berniat dengan tas saya akan mengambil isinya secara diam-diam. Kereta yang penuh sesak, berdesakan menjadi sarang yang nyaman bagi pencopet dan penjambret. Waspada dan hati-hati jadi kunci jika memang kondisi kereta penuh dan berdesakan. Tidak lupa banyak berinfak dan bersedekah jadi penolong pengalih harta kita kita yang akan di rampas oleh orang lain. Sedekah penolak bala... !!

Kereta seperti kehidupan yang berisi dengan berbagai macam sifat dan watak manusia serta orang penghuni atau penggunanya. Ada yang ramah, murah senyum, baik hati, tidak sombong rajin... Ada yang cuek, ga peduli, kasar, sinis, banyak buruk sangka dan sebagainya yang buruk-buruk.

Kereta selain kehidupan, banyak juga mengajarkan arti hidup. Tidak sedikit ilmu, hikmah dan nasihat yang bisa diambil ketika menggunakan kereta api.

"i love kereta..."

Tuesday, June 24, 2008

Banjarmasin, Kota Banyak Berdzikir

Arifin Ilham berasal dari Banjarmasin. Arifin ilham adalah tokoh Indonesia yang gencar menyeru untuk selalu berdzikir. Saking gencarnya beliau menyerukan dzikir, di TV, majelis ta'lim, masyarakat luas, akhirnya ia dipanggil sebagai kiayi.

Dzikir adalah mengingat Allah. Ada pengertian khusus dimasyarakat tentang dzikir, yaitu menyebut asma-asma Allah, dan bacaan yang lainnya ketika shalat. Atau biasa disebut dzikir setelah shalat. Mengingat dan shalat seharusnya suatu hal yang sejenis dan berurutan. Sehingga setelah shalat kita memang disunnahkan dan diperintahkan untuk banyak berdzikir mengingat dan memohon doa kepada Allah.

Banjarmasin, kota yang banyak berdzikir. Saya rasakan ketika berkunjung kesana. Subhanallah, saya baru pertama kali mengikuti proses sebuah acara sholat jum'atan sekitar dua jam. Pertama ketika datang ke masjid hari jum'at itu, jam setengah dua belas. Di masjid Noor, yang terletak di jalan Sudimampir, ketika acara shalat jum'atan itu sudah mulai terisi jamaah. Belum penuh, baru beberapa shaf saja. Saya shalat tahiyatul masjid, kemudian membaca Al-qur'an melanjutkan bacaan sebelumnya.

Cukup lama saya membaca Al-qur'an, hampir 6 halaman saya bisa selesaikan saat itu. Jamaah memang banyak berdatangan, namun proses sholat jumat belum dimulai. Ketika menengok kesamping kira dan kanan, ternyata jama'ah yang lain sedang khusu bedzikir dan sebagian membaca Al-quran juga. Subhanallah... Baru sekitar pukul dua belas lebih seperempat, terdengar suara dari pengeras suara masjid. ada seorang yang mengajak untuk membaca surah yasin.

Dahsyat.. surat yasin dibaca sebelum jum'at. Dan waktu itu subhanallah bacaan yang dilantunkan tartil sekali sehingga mungkin sekitar duapuluh menit dari awal membaca yasin tadi sampai selesai. Tidak selesai sampai surah yasin, kemudian seorang petugas masjid memimpin jamaah untuk membaca tahlil, dan cukup lama juga saat itu jamaah bertahlil. Sampai kemudian berdirilah seorang petugas untuk mengumumkan sesuatu. Dan ini yang khas dari pengumuman shalat jum'at yang saya temui. Tidak seperti masjid masid lain yang mengumuman informasi hanya beberapa waktu dan beberapa hal saja, di masjid Noor Banjarmasin saat itu hampir 20 menit sendiri.


Entah apa tujuan dari pengurus masjid yang ternyata mengumumkan setiap orang yang berinfak kepada atau melalui masjid selama seminggu kemarin. Dari mulai yang menyumbang limaribu rupiah sampai seratus ribu rupiah, semua disebutkan. Mungkin menjadi ajakan dan motivasi untuk mengajak yang lain berinfak juga, serta saling memotivasi untuk selalu rutin berinfak, wallahu'alam.


Dan setelah sekitar satu setengah jam menunggu di masjid untuk melaksanakan shalat jum'at akhirnya tanda azan waktu shalat jum'at dimulai juga.

Ternyata bukan shalat jum'at saja yang doa dan dzikirnya agak lama di Banjarmasin. Beberapa shalat wajib yang saya ikuti di masji Noor dua hari itu juga lain dari acara akrivitas shalat jamaah di masjid daerah yang lain. Hampir semua orang jamaah yang menjadi peserta shalat wajib berdzikir dan ikut berdoa bersama dalam waktu yang relatif lebih lama. Mereka khusu dan penuh perhatian setelah shalat wajib itu.

Subhanallah, jadi teringat ustadz kiayi Muhammad Arifin Ilham yang rutin mengajarkan untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah kala apapun, terlebih setelah shalat. Lantunan doa dan dzikir yang panjang yang tidak pernah tertinggal setelah shalat.

Dahsyat, Banjarmasin menjadi pengingat saya untuk selalu banyak bersyukur dan mengingat Allah kala apapun. Terutama setelah shalat, mintalah keinginan yang sebanyak-banyak dengan harap dan khusu.

Alhamdulillah...

Monday, June 23, 2008

Banjarmasin 21 Juni 2008

















Laporan perjalanan Tim Sosialisasi Menyongsong Pemilu 2009 yang Luber dan Jurdil
Banjarmasin 20-22 Juni 2008


Persiapan dan Keberangkatan

Rombongan Tim sosialisasi beranggotakan enam orang yang terdiri dari Pak Sumarno, Pak Purdamen Sinaraya, Pak Alvi, Bu Eni, Ibu Karti, dan Deni. Setelah sehari sebelumnya briefing di kantor Depkominfo, kami berkumpul di bandara Cengkareng Soekarna Hatta Tangerang, pukul 05.00 pagi hari jum’at tanggal 20 Juni 2008. Beres Check in di bagian keberangkatan bandara, dengan menggunakan pesawat Garuda G-530 kami berangkat sekitar pukul 06:20 WIB.

Pesawat Garuda yang kami naiki setelah kurang lebih satu jam lebih 20 menit terbang akhirnya mendarat dengan selamat di Banjarmasin di bandara Syamsudin Noor pukul 09:00 WIB atau 10:00 WITA. Di bandara Syamsudin Noor selanjutnya kami mengumpulkan bagasi dan barang-barang yang kami bawa dari Jakarta lalu bersiap berangkat menuju penginapan di kota Banjarmasin. Kami juga membawa paket buku berupa Buku sosialisasi pemilu 2009 serta kumpulan peraturan yang diterbitkan oleh KPU yang akan dibagikan kepada dinas Infokom kota Banjarmasin.

Dengan menggunakan taksi kami berangkat Menuju hotel Grand Mentari di jalan Lambung Mangkurat. Di hotel yang terletak di pusat kota Banjarmasin ini kami beristirahat dan menginap selama 2 malam. Ibu Eni mengurus check in kami disana, dan kami memesan 3 kamar hotel. Pak Sumarno dan Pak Purdamen satu kamar, Ibu Eni dan Ibu Karti satu kamar serta Pak alvi dan saya Deni satu kamar. Sekitar satu jam beristirahat, kami pergi menuju Masjid Noor di jalan Sudi Mampir, tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Kami bertiga, Pak sumarno, Pak Alvi dan Deni pergi untuk sholat jum’at disana. Pak dan makan siang. Sementara Pak Purdamen yang beragama katolik menunggu di hotel bersama Ibu Eni dan Ibu Karti.

Koordinasi dengan RRI Banjarmasin dan Dinas Infokom Kalimantan Selatan

Setelah sholat dan makan siang didekat hotel Grand mentari kami rombongan berangkat menuju RRI Banjarmasin di jalan A. Yani KM 3 Banjarmasin. Dengan menggunakan angkot atau taksi kuning kami menuju tempat yang akan dijadikan lokasi penyelenggaraan acara sosialisasi.

Di depan halaman RRI Banjarmasin sudah nampak dibangun tenda dan panggung besar untuk tempat acara. Siang hari jumat itu belum seluruhnya panggung dibangun, para petugas persiapan di kota Banjarmasin masih bersiap dan memasang waktu sampai hari minggu untuk menyiapkan tempatnya. Ketika sampai disana kami disambut oleh dibagian pimpinan di gedung tata usaha RRI Banjarmasin untuk kemudian bertamu dan berkoordinasi dengan bagian acara penyiaran RRI disana.

Pak Adi Pramono, kepala penyiaran di sana kemudian menemui kami dikantornya untuk kemudian berdiskusi mengenai acara yang akan dilaksanakan malam minggu tanggal 21 Juni 2008. Pak Sumarno mengajukan usulan run down acara dan ditanggapi oleh Pak Adi yang saat itu ditemani oleh Ibu Nining Pramudya yang nanti menjadi MC sekaligus penyiar acara sosialisasi pemilu. Selain berkoordinasi di RRI Kami berbagi tugas juga menemui pegawai dan penanggungjawab dinas infokom di Banjarmasin siang itu, dinas Infokom Banjarmasin yang nanti juga membantu dan menyiapkan acara sosialisasi pemilu 2009 di Kalimantan selatan dan Banjarmasin khususnya.

Sabtu, 20 Juni 2008, Sosialisasi Pemilu 2009 di RRI Banjarmasin

Acara yang diselenggarakan malam minggu itu dimulai sekitar pukul 8 malam. Agak malam acaranya, karena menunggu masyarakat dan undangan acara yang hadir setelah beribadah sholat isya dan persiapan lainnya. Acara dimulai dengan pementasan musik melayu dan dangdut dari artis kota banjar masin. Penyelenggara acara juga mengundang tim musik ini (Tim Marasona) untuk menambah hiburan dalam acara tersebut. Kurang lebih seratus orang undangan dan masyarakat yang hadir saat itu.

Acara sosialisasi ini disiarkan secara langsung oleh RRI Banjarmasin. Pendengar selain mendapatkan hiburan juga mendapatkan sosialisasi pemilu 2009 yang juga berguna bagi mereka. Hiburan utama acara sosialisasi ini adalah Madihin. Madihin ini adalah bentuk pementasan seorang pemantun, atau pembawa cerita asli asal dari daerah Banjarmasin yang di dalamnya termuat pesan-pesan atau informasi yang ramai dibicarakan. Malam itu seorang pemadihin dari Banjarmasin tampil dan melantunkan bait-bait pantun kepada hadirin dan pendengar RRI Banjarmasin malam itu.

Setelah diawali dengan hiburan penyanyi dangdut melayu, acara resmi sosialisasi dimulai dengan diisi oleh sambutan dari penyelenggara acara. Bapak Soemarno selaku ketua pelaksana acara dari Depkominfo memberikan sambutan pertama yang berisi ucapan terimakasih kepada hadirin dan tamu undangan atas kehadirannya dalam acara itu dan menginformasikan bahwa acara ini adalah program Depkominfo menyongsong pemilu 2009 yang akan juga dilaksanakan kedaerah-daerah yang lain. Di Banjarmasin, kota yang aman kondisinya terutama ketika pemilihan umum tahun sebelumnya menjadi alasan sebagai tempat pelaksanaan sosialisasi pertama. Beliau juga menyebutkan melalui kesenian tradisional acara ini dilakukan agar lebih efektif tersampai kepada masyarakat dan pemanfaatan jejaring radio sebagai alat teknologi komunikasi yang bisa membantu memudahkan penyebaran informasi. Beliau juga menginformasikan bahwa sosialisasi ini akan selalu menampilkan narasumber yang dihadirkan dari KPU sebagai penyalenggara pemilu, dari Depkominfo sebagai pensosialisasi dan media serta masyarakat umum yang menghadiri acara sosialisasi.

Kemudian Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Ismail Cawidu selaku kepala Pusat Informasi Polhukam Badan Informasi Publik Depkominfo. Secara garis besar beliau menyampaikan bahwa pentingnya melakukan sosialisasi pemilu agar keikutsertaan pemilih dalam pemilu nanti akan baik. Depkominfo selaku wakil pemerintah mengantisipasi agar tidak terjadi lagi besarnya angka golongan putih saat pemilu nanti.

Setelah Pak Ismail dilanjutkan dengan sambutan dari wakil pemerintahan daerah dari Gubernur Kalimantan selatan yang diwakili oleh Sekretaris daerah. Bapak Faturahman menyampaikan pidato sambutan Gubernur Kalimantan Selatan dimalam acara sosialisasi itu. Pada sambutannya gubernur menyampaikan bahwa beliau menyambut baik acara yang diselenggarakan terutama sosialisasi pemilu. Dan melalui Madihin sebagai media, beliau berharap bisa lebih efektif dalam penyampaiannya ke masyarakat dan menjadi ajang melestarikan budaya Banjarmasin juga.

Setelah sambutan, acara yang dipandu oleh MC penyiar Nining Pramudya ini, dilanjutkan dengan penyampaian informasi dan sosialisasi pemilu 2009 oleh ketua KPU Bapak Abdul Hafidz Anshari. Ketua KPU yang juga asal asli Banjarmasin ini menyampaikan pemaparan dan keterangan tentang sistem penyelenggaraan pemilu 2009 nanti. Beberapa hal yang beliau sampaikan antara lain tentang mekanisme memilih pada pemilu 2009 nanti. Seperti ketentuan bahwa dalam pemilihan wakil legislatif, pemilih dalam memilih cukup untuk mencontreng nama atau nomor urut calon wakil saja, tanpa memilih partai yang menjadi asal calon tersebut. Suara tesebut sudah sah dan menjadi bukti bahwa suara adalah bukan untuk partai, tapi untuk calon wakil tersebut.

Beliau juga menyampaikan bahwa jika wakil sudah mendapatakan 30 persen suara dari jumlah dalam daftar pemilih maka ia sudah bisa maju sebagai calon wakil rakyat. Jika ada wakil calon yang mendapatkan jumlah suara yang sama, maka calon dengan nomor urut yang terkecil yang dibawa kedalam pemilihan. Beliau mengingatkan bahwa sungguh satu suara yang diberikan masyarakat sungguh bermakna, maka kewajiban kita dan masyarakat untuk memilih. Pilihlah calon wakil dengan criteria calon terbaik, karena sebenarnya calon tersebut merupakan wakil kita di pemerintahan.

Selain itu Bapak Abdul Hafidz Anshari juga menginformasikan bahwa akan banyak partai peserta pemilu 2009 nanti. Sudah ada 16 partai yang sudah pasti lolos 35 partai lagi masih dalam verifikasi oleh KPU pusat dan daerah. Dan terakhir beliau meinformasikan bahwa Sebuah partai akan dihitung untuk mendapatkan kursi di DPR jika sekurang-kurangnya mendapatkan pemilih 2,5 persen dari jumlah pemilih.

Dialog Interaktif masyarakat pendengar dan hadirin undangan

Setelah pemaparan pelaksanaan pemilu 2009 oleh Ketua KPU pusat Bapak A. Hafizd Anshary, acara dilanjutkan dengan dialog dan diskusi dengam pendengar RRI dan undangan yang hadir di halaman RRI Banjarmasin. Tiga orang yang menjadi narasumber diskusi yaitu Bapak A. Hafidz Anshari sebagai ketua KPU, Bapak Ismail Cawidu sebagai wakil dari Depkominfo RI dan Bapak Mirhan yang merupakan ketua KPUD Banjarmasin yang terpilih. Diskusi yang dipimpin oleh seorang moderator ini berlangsung cukup menarik. Pertanyaaan disampaikan melalui telepon dan sms ke nomor operator di RRI Banjarmasin. Ada 3 orang yang menelepon saat acara itu, dan hampir puluhan sms yang masuk ke operator.

Beberapa pertanyaan yang disampaikan yaitu tentang mekanisme pemilih yang memiliki kelainan mata atau buta, kemudian pertanyaan tentang aturan atau perudang-undangan pemilu 2009 yang akan dilaksanakan. Disampaikan juga bahwa undang-undang pemilu 2008 mengatur bahwa radio komunitas tidak boleh mengkampanyekan calon atau partai peserta pemilu. Undang-undang itu juga mengatur bahwa pelaksaanaan kampanye untuk pemilu 2009 dilakukan selam 9 bulan.

Masalah ketentuan teknis juga dibahas dalam sesi dialog tersebut. Seperti ketentuan suara yang sah, kemudian tidak adanya perubahan daerah pemilihan atau sama seperti pemilu sebelumnya kecuali dibeberapa daerah yang terkena musibah seperti Aceh akibat Tsunami dan Porong Sidoarjo akibat bencana Lumpur. Ditegaskan juga bahwa mencoblos tidak lagi dilakukan pada pemilu 2009 nanti. Seperti negara-negara lain didunia, Indonesiapun akan mengikuti untuk mencontreng/memberi tanda dalam pelaksanaan pemilu. Seperti yang disampaikan Pa Hafidz Anshari bahwa tinggal Indonesia dan Kamerun saja negara yang masih mencoblos dalam pemilihan umumnya.

Masalah kemelut pilkada di Maluku utarapun dibahas dalam dialog tersebut. Pa Hafidz ketua KPU menyampakan bahwa tugas KPU sudah final hanya tinggal daerahnya saja yang menentukan akhir pemilihannya.

Sekitar pukul 22.00 WITA acara diskusi akhirnya di hentikan oleh moderator. Sementara hiburan musik dengan artis-artis kota Banjarmasin berlanjut kembali, rombongan narasumber, tamu dan panitia berurutan meninggalkan halaman RRI banjarmasin tempat acara sosialisasi pemilu 2009 digelar. Rombongan kami kembali ke penginapan untuk beristirahat dan berkemas untuk pulang kembali ke Jakarta keesokan harinya

**** selesai****

Thursday, June 19, 2008

Kretaku tak berhenti lama.... (3rd Edition)

Citayam, Pa Yos, pulang malem...

Stasiun Citayam stasiun unik. Stasiun yang jauh dari keramaian, tidak seperti stasiun lain yang besar seperti depok, bogor atau pasar minggu. Tapi stasiun citayam stasiun adalah terindah yang pernah saya lihat. Stasiun citayam, stasiun terakhir sebelum depok yang selalu menjadi penyuplai penumpang kereta terakhir berangkat sebelum ke kota ketika berangkat pagi menuju tempat kerja.

Suara musik dari penjual vcd dan dvd musik atau film menemani telinga malam itu. Musiknya tidak karuan, dari mulai musik keras sampai musik yang lembut semuanya terputar. Mungkin lagu medley dan remix disko plus jaipongan yang diputar hampir selama beberapa jam saya menunggu di stasiun citayam. Berpindah dari lagu yang satu ke lagu yang lain yang kadang tidak pernah sampai selesai diputar. Telinga jadi terbiasa mendengarnya dalam beberapa jam itu. Terfikir saat itu betapa indahnya jika yang diputar adalah suara murattal dari syaikh al-matrud atau as-syatiri, pasti malam itu lebih teduh. Tidak seberingas musik medley dan mudik dangdut remix yang mendesak-desak di dada.

Citayam, stasiun sederhana yang hanya di lalui oleh dua rel kereta api. Satu arah utara ke arah Jakarta dan satu jalur yang lain arah ke selatan menuju bogor. Letaknya agak tinggi diatas permukaan yang lain. Sepertinya staisun ini merupakan stasiun diujung lembah yang tinggi dimana pintu masuknya di depan lembah tersebut. Nampak jika berdiri ditengah stasiun menghadap ke arah barat ada sebuah danau yang terhampar diantara perumahan di dekat stasiun citayam. Tidak terlalu luas, namun nampak indah karena memang jarang ada wilayah yang bisa terdapat didalamnya sebuah danau di kota kami ini. Malam itu nampak danau begitu indahnya dihiasi dengan pantulan sinar lampu rumah dan lampu penerang jalan yang terilhat diatas permukaan airnya. Pernah lihat pemandangan dipinggir pantai di atas vila atau bungalau diatasnya? Mungkin sedikit seperti itu tadi malam, subhanallah

Pa Yos, malam tadi mentraktir saya makan dirumahnya. Sekitar 2 km dari stasiun citayam. Subahanallah, orang yang bersahaja, murah senyum dan baik hati. Saya diajak kerumahnya untuk mengecek kerusakan computer pa Yos yang baru saja tidak lama ia beli. Rumahnya sederhana, hanya beberapa ruang saja, tapi isinya seperti menunjukkan bahwa isi hati pa Yos lebih dari biasanya. Alat elektronik, Tape, computer, TV yang besar. Pa Yos melek teknologi… Pa yos orang yang sadar bahwa memanfaat teknologi adalah sesuatu hal yang baik.

Meski Cuma buat ngetik sama muter vcd musik, mas deni…” Katanya.

Wuih, malam yang cukup larut untuk pulang kebogor, tapi dalam juga maknanya, benakku berfikir terus seperti itu. Senang bisa singgah mencari informasi baru di tempat yang baru dan berkenalan dengan orang yang baru pula.

Citayam, malam itu juga jadi tempat terindah disepanjang perjalanan saya menggunakan kereta. Ditemani pa Yos, musik dangdut remix dan beberapa penjual buah2an murah di akhir sore menjelang malam.

Alhamdulillah pulang juga….

Wednesday, June 18, 2008

Stop Kekerasan

Jakarta masih aman. Setidaknya ketika tadi pagi saya lihat di perjalanan ketika berangkat ke tempat kerja. Di daerah monas (monumen nasional) pagi ini ramai dengan beberapa kelompok orang yang masing-masing berbeda kontras. Nampak sekali mereka dari golongan yang benar-benar jauh jarak dan hubungannya.

Kelompok pertama, ada sekitar 10 mobil pengangkut pasukan polisi yang parkir dan mungkin ratusan motor yang berbaris rapih disana. Di ujung barisan parkiran terlihat rapih berbaris ratusan pasukan polisi sedang berkoordinasi. Setiap hari memang hampir selalu ada pasukan pengamanan di monas akhir-akhir ini. tidak kurang minimal satu buah mobil patroli dan beberapa polisi disana. Polisi mungkin masih berjaga dan bersiaga atas kejadiaan kerusuhan di monas tanggal 1 juni yang lalu.

Kelompok kedua, berkumpul agak diluar pagar monas, sekelompok orang berpakaian dominan putih dan hitam, mengelilingi sebuah mobil besar bak terbuka yang memuat sound system. Sekilas nampak terbaca tulisan "hizbut tahrir indonesia". Terlihat banyak poster yang mereka bawa yang bergambar tokoh FPI, habib riziq dan gambar Munraman, mungkin mereka sedang akan aksi menuntut pembebasan dua tokoh FPI tersebut. Monas memang tidak pernah sepi akhir-akhir ini dari kelompok aksi dan demonstran yang menuntut kepada pemerintahan atas kebijakan yang diambil. Istana negara di depan monas tersebut nampak selalu ramai setiap beberapa sore hari belakangan ini dengan kelompok yang kontra dengan kebijakan pemerintah. Naiknya BBM, pemberian BLT, Buruh dan Guru yang menuntut gaji dan lain-lain.

Subhanallah, kelompok ketiga yang terakhir, ada segerombolan orang yang berkulit lain dengan bangsa kita. Orang bule. Mereka menumpang sebuah bis pariwisata yang mewah yang terparkir juga tepat didekat mobil demostran dan rentetan kendaraan pasukan polisi tadi. Tidak jelas tepatnya bule dari mana, timur atau barat yang pasti mereka gerombolan atau rombongan pelancong luar negeri yang memang sedang berwisata ke indonesia. Lengkap dengan pemandu dan tustel, kamera yang mereka bawa. Monumen nasional dan taman didepan istana merdeka memang menjadi tempat foto dan rekreasi yang menarik bagi turis mancanegara yang berkunjung ke jakarta.

Kekerasan, ketidakamanan, kerusuhan, akhir-akhir ini sedang marak. Entah apa penyebab timbulnya sifat buruk ini hampir secara serentak di masyarakat. Mungkin ada benarnya orang yang bilang kenaikan harga BBM sehingga masyarakat naik pitam dan banyak kekerasan. Entah kenapa masyarakat indonesia yang terkenal ramah bisa menjadi begitu buas dan beringas seketika. Seorang wanita yang sifatnya lembut ternyata menyimpan sifat buas seperti tergambar dalam kejadian geng nero di jawa timur sana. Seorang teman perempuan saya yang sampai terkejut amat sangat ketika didaerahnya yang sebelumnya aman namun suatu saat ia dirampok oleh beberapa pemuda, beberapa kelompok agama yang sama-sama mengaku agama islam dan selamat, sampai bentrok dan mengucurkan darah disuatu tempat (karena mungkin kesabaran atau kondisi yang saat itu memaksa untuk terjadi bentrokan)

Rabb, yang maha lembut, yang maha pengasih.. selamatkan kehidupan kami, tunjukan kami jalanmu yang lurus.
Rabb yang maha pengampun, jangan jadikan kebencian dihati diantara kami yang sama-sama yakin akan diriMu....

Weih.. dahsyat pagi tadi, melihat tiga kelompok yang bisa berkumpul tadi saya jadi masih menyimpan optimis, dan berjuta keyakinan bahwa setiap masalah nanti akan ada solusinya. Jakarta ini masih aman. Polisi akan terus bertugas dengan baik mengamankan jakarta dan mengayomi masyarakat dalam kehidupannya. Kelompok yang berjuang dan berkeyakinan untuk memajukan suatu perubahan akan terus dengan bijak menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah yang memang tidak 100% benar dan jauh dari kesempuranaan. Demostrasi dan aksi di jalanan yang juga semoga diikuti dengan aksi nyata dilapangan, ikut membangun masyarakat dan bangsa. Turis asing, orang-orang yang mengagumi keindahan indonesia dan Jakarta, akan terus berdatangan menambah devisa dan keuntungan bagi masyarakat indonesia juga.

mudah-mudahan...

Tuesday, June 17, 2008

Menyiasati Kegundahan Hati

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menata hati dikala gundah. Karenanya, dikala suatu musibah dirasa berat, maka sebenarnya itu semata-mata karena kita belum mampu memahami hikmah dibalik kejadian tersebut. Atau kita masih beranggapan bahwa rencana kita lebih baik daripada rencana Allah.

Sesungguhnya ilmu kita yang teramat sedikit ini kerap kali diselimuti hawa nafsu yang cenderung menipu dan menggelincirkan diri. Sedangkan Dia, adalah Dzat yang maha Mengetahui segala-galanya. Sesuai firman Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat burukbagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS.Al-Baqarah [2] : 216).

Oleh karena itu, bila datang suatu kejadian yang mencemaskan, segera kuasai diri. Jangan menyiksa diri dengan pikiran yang diada-adakan. Sehingga kita makin tersiksa. Kedua, segera kembalikan segala urusan kepada Allah. Yakinilah kesempurnaan sebagai jalan yang terbaik bagi kita.

Ketiga, jangan mendramatisir masalah. Masalah akan menjadi besar jika kita menjadikannya besar. Sebaliknya, masalah menjadi kecil jika kita menganggapnya kecil. Dengan demikian, tergantung dari seberapa pintar kita mengelola masalah.

Oleh karena itu saudaraku, kita harus berupaya istiqamah dalam membersihkan hati. Semoga hati yang bersih akan tercermin dalam wajah yang bersih. Mencerminkan hati yang tidak bersih akan terlihat dari wajah. Wajah merupakan cerminan dari kondisi hati. Orang yang bersih hati tampak dari wajahnya yang berseri-seri, ceria, murah senyum,kata-katanya baik, lembut, dan akhlaknya baik. Keindahan yang sesungguhnya akan terpancar dari dalam (inner beauty). Kunci agar dicintai Allah salah satunya dengan menjaga kebersihan hati, lisan, fisik, dan harta kita.

Sumber : Majalah Swadaya